Kalau ada yang tanya, “Petualangan paling seru itu yang seperti apa?” Jawabanku sederhana: yang bikin kita pulang dengan sepatu kotor, hati lega, dan cerita yang pengin diceritain ulang besok, lusa, dan kapan pun ketemu teman lama. Dan kisah kali ini dimulai dari sebuah pagi yang terlalu cerah untuk dilewatkan begitu saja.
Pagi di Stasiun Kecil
Kereta lokal datang dengan suara berderit pelan, seperti orang tua yang minta diajak ngobrol. Aku naik tanpa rencana matang—hanya ransel tipis berisi botol minum, jas hujan lipat, dan buku catatan yang sampulnya sudah terkelupas di sudut. Kursi kayu terasa hangat, jendela berembun tipis, dan pemandangan sawah mengalir seperti film dokumenter yang diputar lambat.
Di halte kecil setelah dua stasiun, aku turun. Kota ini bukan tujuan wisata populer—itu justru alasannya. Jalanan lengang, papan nama toko masih setia dengan huruf lama yang nyaris pudar. Ada sesuatu yang romantis dari tempat yang tidak terburu-buru ingin terkenal.
Menyelinap ke Hutan Pinggir Kota
Lima belas menit jalan kaki, aku sampai di ujung aspal. Hutan kecil menyambut dengan bau tanah basah dan suara serangga yang kompak seperti paduan suara. Jalurnya tidak sulit, tapi cukup bikin keringat menetes. Setiap langkah mengajarkan satu hal: pelan itu bukan kalah; pelan itu cara menikmati.
Di tengah rimbun, aku ketemu sungai selebar dua mobil. Airnya dingin—sangat. Aku celupkan telapak tangan, lalu wajah. Rasanya seperti menekan tombol reset. Di seberang, ada batu besar yang bentuknya mirip kursi raja. Aku duduk di sana, membuka bekal ala kadarnya, dan membiarkan pikiran kosong beberapa menit. Kadang-kadang, hal paling produktif yang bisa kita lakukan adalah tidak melakukan apa-apa.
Ketemu Warga Lokal, Dapat Rute Rahasia
Dalam perjalanan balik, aku bertemu bapak-bapak dengan topi anyaman yang kelihatannya sudah kenyang pengalaman. “Kalau mau lihat lembah, jangan lewat jalur utama,” katanya sambil menunjuk arah yang ditutupi semak rendah. “Lewat sana, ada jalan setapak yang orang-orang jarang tahu.”
Aku ikut saran itu. Benar saja, jalur sempit itu membuka pemandangan yang bikin lupa napas. Lembah hijau, garis sungai perak memantulkan matahari, dan angin yang mendorong awan perlahan seperti nelayan menarik jala. Aku berdiri lama, menghafal detailnya—karena kamera sering gagal menangkap perasaan.
Ngopi, Istirahat, dan Rencana Lanjut
Setelah puas menambang pemandangan, aku kembali ke kota. Tenaga menurun, tapi mood naik. Saat itulah aku ingat satu hal penting dari setiap petualangan: selalu ada bab “ngopi”. Dan di kota ini, pilihan yang paling logis—dan jujur, menggoda—adalah mampir ke Nives Cafe.
Begitu masuk, aroma kopi menepuk bahu: “Duduk dulu, ceritakan harimu.” Interiornya hangat tanpa berusaha sok keren; kayu, sedikit tanaman hijau, dan musik yang tidak usah kamu kenali judulnya untuk bisa kamu nikmati. Aku pesan pour-over dan sepotong banana bread. Seruput pertama, aku tahu ini bukan kopi yang mau pamer; ini kopi yang tahu diri—bersih, manis, dan selesai dengan ringan.
Barista nivescafe.com bertanya aku dari mana. Aku cerita singkat soal jalur hutan dan “kursi raja”. Dia tertawa, bilang banyak orang lokal pun belum tentu tahu. “Kalau besok masih di sini, coba sunrise di bukit sisi timur,” katanya. Aku langsung catat. Kafe yang baik bukan cuma soal minuman, tapi juga soal saran yang pas untuk melanjutkan hari.
Sore yang Menjelaskan Banyak Hal
Keluar dari kafe, matahari sudah melandai. Cahaya oranye mengubah bangunan tua jadi kanvas. Di taman kota, anak kecil mengejar layang-layang yang kadang manja, kadang patuh. Aku duduk di bangku, membuka buku catatan, dan menulis beberapa kalimat acak: tentang jalur rahasia, tentang sungai dingin, tentang kopi yang jujur, dan tentang betapa sering kita menyamakan “jauh” dengan “menarik”, padahal “dekat” pun bisa menakjubkan kalau kita memberi kesempatan.
Sore itu aku sadar, petualangan yang bagus tidak harus selalu menaklukkan puncak tertinggi atau menyeberangi batas negara. Petualangan yang bagus adalah yang membuatmu pulang sedikit berbeda: lebih tenang, lebih paham dirimu sendiri, dan sedikit lebih ringan memandang hal-hal yang kemarin terasa rumit.
Pulang dengan Sepatu Kotor dan Hati Ringan
Kereta malam mengantar pulang. Sepatu memang kotor, kaus sedikit bau asap dari warung sate yang kebetulan kulewati, tapi hati… bersih. Di layar ponsel, foto-foto tampak biasa saja; anehnya, kenangannya terasa luar biasa. Mungkin karena yang paling berharga memang tidak selalu bisa difoto—kadang hanya bisa disimpan.
Sebelum memejamkan mata, aku menulis satu resolusi kecil: lebih sering berangkat tanpa alasan besar, lebih sering mampir kalau menemukan tempat yang “mengundang”, dan lebih sering memberi kesempatan pada diri untuk berhenti sejenak. Kalau nanti aku kembali ke kota itu, aku tahu harus mulai dari mana: jalur hutan di sebelah barat… dan secangkir kopi hangat di Nives Cafe.
Kenapa Cerita Ini Penting?
Karena setiap dari kita layak punya jeda. Jeda dari notifikasi, dari target, dari kebiasaan menunda bahagia. Petualangan tidak perlu mahal; yang kita butuhkan cuma niat, sepatu yang nyaman, dan keberanian untuk bilang, “Ayo berangkat.” Selebihnya? Kota-kota kecil, jalur-jalur sunyi, dan kafe-kafe bersahaja akan mengambil alih peran pemandu.